Kembang Tujuh Rupa
Di serambi ini… Di serambi ini, Jejakmu lalu masih mampu kutemukan Diantara kerikil hitam yang membaur berceceran Deru sepoi, tirai malam, dan kidung yang selalu tersajikan Di serambi ini, Nafasmu lalu masih bisa kurasakan Diantara lirih angin gunung dan cacian burung malam Kemricik hulu, batuan lintang, dan bening yang selalu mengalirkan Di serambi ini, Momokmu lalu masih sanggup kuhadirkan Diantara mimpi dan bayang nyata Diantara hati dan bayang fatamorgana Dirimu masih sanggup kuhadirkan, Dan memang masih sanggup kuhadirkan Karena Ini, sajak satu minggu yang lalu Bukan sekarang, Lusa, Kelak, Dan yang akan datang.
wawan, 25 mei. 09.45 pm Menjelang malam. Tiga hari yang lalu… Tiga hari yang lalu, Sebelum sajak itu aku tulis Kau masih duduk di renta ini dengan manis Lalu kau ucap, “kau bawa aku kemana, Hingga seketika kau buat duniaku menjadi cahaya”, Lilin laksana mega yang buatku tak percaya “kau bawa aku kemana, Hingga sekilas roncean runtutku menjadi menyala”, Sumbu bak lentera yang buatku tak semakin tak percaya “kau bawa aku kemana, Hingga secoret pun tak mampuku bedakan seperti biasa” Hitam yang jadikan bersih, tak biasa yang buatku semakin tanda Tanya. Inilah engkau yang sesungguhnya? Itu coretan tiga hari yang lalu Dan lain dengan sekarang, Dan beda dengan sekarang Karena engkau telah tolehkan muka Dan berikan sepenggal tutur yang beda Wawan, tengah malam 12.31 am. Menjelang Purnama…
Seperti biasa, Ritual ini aku lakukan dengan bela hati Kupanjat asmanya yang tertinggi Agar keruhku jua hilang dan mengalir Seperti biasa, Kucari ketenangan Kucari kesenyapan Dan diantara tenggang kedua rasa itu, Simpuh kupanjat doa ku Diantara parau yang mencerca malam Diantara maki yang mendoktrin malam Dan diantara onggok yang menertawakan Lalu apa lagi akupun tak tau, Akhirnya tepat diatas diujung rukma purnama itu Tepat diatas tapal waktu yang tipis membalutku Huuuhhhh…. Sampai kapan dia akan menyinari, selagi aku tak mampu jadi.
Dan ritual ini, Akan tetap kupanjat, dengan doa dan tutur asma yang paling tinggi. Malam, 28 mei 08.50 pm Salahkah aku, Salahkah aku, Jika aku merindukan masih santunnya Jika aku merindukan masih manjanya, Seperti orang tua angsa putih yang rindukan buah hatinya Salahkah aku, Jika hati ini menginginkan masih coretan parasnya, Jika hati ini menginginkan masih siutannya Salahkah aku, Seandainya jika semua ini aku buka perlahan Seandainya jika semua ini aku sentuh perlahan Seperti keras karang yang termakan arus zaman Tatkala karang itu masih rata dan bertahta Dan salahkah hati ini, Jika aku harus menutup mata diantara dua Dan jika aku tetap mengambil hasil Da jika juga aku tetap menerima hasil, Ketika satu di tambah satu sama dengan dua Lalu ketika satu di kali satu sama dengan Satu.
Adakah itu terbaca olehku? Dan tetap salahkah aku? Sepertiga malam, Juli 2008 01.25 am Bingkai yang retak, Menjelang malam aku pulang Menjelang malam aku menerawang Sudut lancip yang acap kali tak pernah sebelumnya Berdiri miring sebuah paras biru dengan uraian ikal Itukah masih dirimu? Atau kah hanya bayangmu? Kembali ku dekati, Kembali ku sibak rak buku yang kotor berdebu. Ternyata itu coretan satu tahun yang lalu malam Bingkai bening yang tak lagi bening Kanvas putih yang tak lagi putih, dan memang tak putih. Tak sempat aku pegang, Tiga cabang retakan telah mengikis bingkai itu malam. Laksana anak sungai terpecah hulu dan hilir nya Dan tak tau kemana mereka sampai tujuanya.
Kau duduk di bingkai itu, Kau menguraikan manjamu Lalu kau masih duduk di bingkai itu. Dan kau memang masih duduk tersenyum di bingkai itu, Hingga kini walau retak menggoresmu. Dini hari Sekerling manja mengores sosok perempuan di depannya Ketika subuh belum benar-benar pagi, Ketika mutiara kecil masih lembab di antara pagi dan dini hari Dan ketika dunia masih tertidur dengan seonggok mimpi belaka Sosoknya yang polos sedikit berbau minyak melati yang membasahi ke dua krah nya Lalu semakin dekat kutemukan mata kancing yang sangat putih bulat Kumulai mendekat dengan langkah pelan semakin dekat dan mendekap Lencir alisnya katakan tidak, Hitam ronanya katakan tidak, Dan rekah manjanya katakan kesederhanaan Itukah benar sosok sebenarnya? Malam semakin meninggi, Semakin tak dapat bangkit dari lamunan Semakin tak dapat terbangun dari khayalan Khayalan yang teramat tinggi akan sosok polos dan kesederhanaan Dari seseorang yang mungkin akan memberi makna baru dari sebuah kehidupan.
Dini hari, Solo, agustus 2008 Itukah dirimu, Serenai sulaman panjang yang hadir di hadapku Yang lirih terbaca dan tak sempat bisikan patah tutur Ketika hadap antara empat mata mengembara bersama rasa Ketika hadap antara empat telinga menggummang diantara ramahnya Sapa Tanya, entah mengapa tapi bukan sebuah tanda Tanya Karena sadari hati kau belum terlalu faham untuk ini Rekah manja, entah mengapa tapi bukan sebuah senyuman canda Karena sadari mimpi masih terlalu pagi untuk mengrti akan apa maksud dihati Nafas-nafas yang lain hanya bisa memandang, Nafas-nafas yang lain hanya dapat menerawang, Penuh teka-teki yang tak terpecahkan. Itukah dirimu, Yang sekejap membuat goresan lintasan Tanya yang tak sempat terbaca Yakin diantara sesaat, Dan Tanya diantara iya dan tidaknya. Sungguh hamba tak tahu yang sebenarnya. Dan memang sungguh-sungguh tak tahu akan semua Karena sampai kumulai dan hadir, masih ada dihadap dan semakin buat hati ingin dekat pada seorang sosok yang menjerat.
Solo, agustus 2008
Wawan Bukan dahan
Dikirim oleh : sastro romance




![[Ask]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/ask.png)
![[BlogBookmark]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/blogbookmark.png)
![[Bloglines]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/bloglines.png)
![[del.icio.us]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/delicious.png)
![[Digg]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/digg.png)
![[Facebook]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/facebook.png)
![[Friendsite]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/friendsite.png)
![[Google]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/google.png)
![[LinkedIn]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/linkedin.png)
![[MySpace]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/myspace.png)
![[Reddit]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/reddit.png)
![[StumbleUpon]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/stumbleupon.png)
![[Technorati]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/technorati.png)
![[Twitter]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/twitter.png)
![[Windows Live]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/windowslive.png)
![[Yahoo!]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/yahoo.png)
![[Email]](http://lenterahati.web.id/wp-content/plugins/bookmarkify/email.png)