lelaki di tepi jalan pattimura-sajak muh amir jaya
LELAKI DI TEPI JALAN PATTIMURA
Setiap sore, ketika sang surya besinar lembut
Lelaki itu menyusur di tepi jalan pattimura
Dengan wajah kuyuh dan rambut penuh debu
Tapi sorot mata tajam, seperti ingin menikam
Siapa yang memandangnya
Di pundaknya terlilit selendang kain sarung
Warnanya tak lagi menggambarkan keutuhan
Kecuali warna yang telah menyatu dengan debu
Mungkin dijadikannya pelindung ketika dingin menerjangnya
Atau mungkin sebagai payung ketika sang surya membakarnya
Setiap sore, ketika sang surya bersinar lembut
Lelaki itu menyusur di tepi jalan pattimura
Entah keseribu langkah yang telah dilaluinya
Ia tetap menyusur dengan badan tegak
Mulutnya komat kamit entah menbaca mantra apa
Tapi ia seperti menikam dirinya sendiri
Ketika zaman tak lagi bersahabat dengannya
Di tepi jalan pattimura ini tak ada yang tahu
Dari mana ia lahir, dari mana asalnya
Dan mau kemana ia menepi
Kecuali aku merabanya, ia mencari hidupnya
Yang mungkin telah tergadai dengan ganasnya waktu
Atau mungkin ia sedang terpenjara oleh kelelahan dan kekalahan
Dalam pertarungan hidup yang keras dan kadang tidak manusiawi
Atau mungkin ia ditinggal oleh sang bidadari yang telah selingkuh
Entah…..
Tapi yang kutahu, ia butuh tangan-tangan kita
Butuh hati kita
Butuh kasih sayang kita
Yang tak pernah tergerak
Karena telah beku dengan kelembutan
Tarakan, 16 Juli 2012.

