Kirim Tulisan

Judul Tulisan* :
Pilih Kategori* :
Nama: *
Email: *
Website:
Isi Tulisan* :
Tag Tulisan:
Contoh: tuhan,cinta,harapan (pisahkan dengan koma)
Upload Gambar:
Kode Verifikasi
Visual CAPTCHARefresh
Saya telah membaca Syarat dan Ketentuan
Jun 25

pengemis

Posted on June 25th, 2012 by by admin

Pengemis

HAMPIR dua bulan menapaki bumi Paguntaka dan berkeliling kota sampai ke kampung-kampung, ada satu yang menjadi perhatian saya. Saya tidak menjumpai satupun pengemis di jalan-jalan. Sangat jauh berbeda dengan kota Makassar, di mana disetiap tepi jalan pengemis berjejer menunggu orang-orang yang ingin berbagi kasih.

Suatu waktu saya dikejar penasaran dan ingin membuktikan apakah di masjid raya misalnya juga tidak ada pengemis seperti di masjid belahan bumi lain ? Untuk membuktikan rasa penasaran itu, saya pun duakali salat jum’at di Masjid Baitul Izzah, masjid terbesar di Tarakan yang sampai saat ini masih dalam proses penyelesaian.

Saya terkejut. Bukan karena megahnya masjid Baitul Izzah, tetapi saya tak menjumpai pengemis seorang pun. Saya lalu teringat dengan Masjid Al Markaz Al Islami dan Masjid Raya di Makassar. Setiap hari jum’at, kedua masjid kebanggaan orang Sulsel tersebut disesaki dengan pengemis yang berjejer dari pintu utama sampai ke teras masjid.

Pertanyaan selanjutnya yang begelayut di benak saya adalah apakah masyarakat kota Tarakan di mana penduduknya sekitar 200 ribu orang, tidak ada yang berada dibawah garis kemiskinan ? Atau apakah Pemkot Tarakan melarang pengemis berkeliaran di jalan-jalan ?

Selidik punya selidik, ternyata tidak ada larangan atau Perda (Peraturan Daerah) yang melarang orang-orang miskin mengemis di pinggir jalan. Saya pun terkejut ketika saya ketemu salah seorang pegawai Dinas Sosial dan Tenaga Kerja kota Tarakan, saat saya dan sejumlah wartawan menelusuri peninggalan sejarah orang-orang Jepang di Tarakan Timur.
Saat itu dalam perjalanan pulang, pegawai berinisial AR (saya sengaja tidak menulis nama sebenarnya) mengungkapkan kepada saya bahwa di daerah tersebut banyak warga dibantu Rp 10.000.000 (sepuluh juta)/keluarga. Artinya apa ? Di kota Tarakan dengan penghasilan minyak yang menjadi andalannya, rupanya juga tidak semua masyarakatnya sejahtera. Masih ada warga miskin bahkan mungkin di bawah garis kemiskinan.

Ia kemudian menunjuk rumah panggung kecil, milik warga setempat yang menurut dia dibantu tahun lalu (2011). Saya tak menanggapinya secara serius karena kebetulan kami sementara di atas motor dan jalanannya belum diaspal.

***
Yang menjadi catatan saya adalah orang-orang miskin di Tarakan ada, tapi mereka tidak ke jalan-jalan atau keliling ke rumah-rumah untuk mengemis. Berbeda dengan kota Makassar misalnya, setiap pagi para pengemis bergerombol di setiap sudut jalan dan mendatangi rumah-rumah warga meminta uang dan beras.

Sebuah potret sosial yang seharusnya kota Tarakan menjadi contoh bagi kota-kota lainnya. (muhammad amir jaya)

Tarakan, 26 Juni 2012.

Pengirim : muh amir jaya

Tags:

Kirim artikel ke Lentera Hati
Dapatkan backlink gratis dengan mengirimkan artikel beserta alamat blog anda ke lenterahati.web.id
Bergabung dengan Lentera Hati di Social Bookmark
Berlangganan artikel melalui Email
Silahkan masukan alamat email, untuk membaca setiap artikel terbaru lenterahati.web.id langsung dari inbox email anda

Tinggalkan Komentar di pengemis

CommentLuv badge