Jun 27

Sajak Sajak Limosin

Posted on Juni 27th, 2010 by by admin

Limosin

Masih saja kueja katamu
Sebelum pembaringan semalam aku lelapkan
Setiap kata yang kau ucapkan menjadikan
Hal patut aku pikirkan
Ada saja yang membuatku gusar
Tentangku, tentangmu, dan tentang keputusan kita
Semalam telah aku putuskan untuk memilihmu
Sawitri
Sawitri yang bersama Batara Wisnu
Mencari perburuan lakmana yang hilang dibawa
Batara Durga

Aku masih saja marimba di padang Alaska
Mencari mu bersama kabut dingin es yang membeku
Sulit ku temukan huruf huruf yang kau rangkai menjadi kata
Menjadi kalimat yang ingin terucap manis
Diam di bawah pohon paku dan gigilnya angin
Bersama kesunyian
Bersama malam yang kian merajam
…………….
[rojaki…]

Yakinkan aku, reina

Angin yang berbisik malam ini
Adalah,
Serpihan kata yang kurangkai untuknya
Mengajaknya menjelajah dunia
Ini adalah keputusanku memilih dia
Sulit memang mengapa harus memilih dia

Selama ini aku tak pernah mengeja setiap katanya
Selama ini tak pernah aku membaca tutur katanya
Selama ini tak pernah aku bertemu dengannya
Ya hanya sesekali di lebaran yang usianya yang kedua
Itu pun hanya sementara

Malam ini masih saja aku terdiam dibuatnya
Alam hanya membawaku dan mengantarkan dalam doa
Mantra yang biasa terucap kualihkan menjadi doa
Doa pada yang maha bijaksana

perlukah aku bertanya ?
pada siapa?
Hanya padanya
Jawaban aka ada untuknya!

[rojaki…]

Kematian Bapak
Pemakaman asing siang ini
Kematian bapakku yang ganjil
Ayahku sakit yang tak wajar dan menghantarnya pada
Kematian yang sungguh tidak wajar
Sakit yang membuat sakit

Kamboja masih saja diam
Langit membisu
Awan terasa tidak adil
karena hanya memayungi menara-menara kota
Tidak pada pemakaman ayah siang ini

Si hitam yang membuatnya harus mangkat
Kematian yang harus dipaksakan
Kematian yang menyisakan dosa hitam bagiku
pewaris ilmunya
Aku masih saja BUNGKAM
Kamboja, kenanga, dan kecubung jingga menjadi saksi kematiannya

[rojaki…]

Lampung, 28 Agustus 2007

Jibril

Purnama mengapung di biru banyu telaga
Sesekali meleleh oleh arus gelombang
Memandanginya dengan gamang
Angin parau bergegas pergi
Hingga merasa benar-benar sendiri
ditangkup sunyi daun-daun yang bermandi cahaya purnama

Kami beri¬stirahat di pinggir telaga itu
hanyut oleh pikiran-pikiran kami
Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami
sebelum sampai pada telaga ini
Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah
setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat
Kami seperti mengejar kilat.
Jiwa-jiwa kami masih saja memburu perburuan kami

Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua
Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini
Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami

[rojaki…]

Magrib, 29 September 2009

Angin Pengantin

aku masih saja di sini
di keting¬gian menara jingga
menikmati senja
senja berwajah pucat
la¬ngit diam membisu guratkan duka-duka para dewa
sepi……..

melintas burung gagak bergaun hitam
me¬nari indah kepakkan sayapnya yang kelam
tarian yang se¬be¬lumnya belum pernah aku sak¬si¬kan
ganjil..

angin masih terlalu cinta de¬ngan kehadiranku
ia sapa aku lem¬but
gagak itu masih me¬narikan ta¬rian yang terluka
en¬tah ten¬tang apa…
ketika senja berangkat ke ma¬lam,
perlahan-lahan burung ga¬gak menghentikan tariannya
menyimpan keganjilan
hening,

tatapan mata¬nya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batin¬ku.
aku belum tahu apa yang se¬sungguhnya gagak sampaikan padaku
malam ini seperti tak punya nafas.
tak ada angin yang meliukkan tubuhnya.
pohon-pohon diam.
tak kudengar desah de¬dauan
gunung-gunung mem¬bi¬su.
demikian juga dengan ham¬par¬an laut di depanku.

diam.
malam terbungkus kesunyian.
se¬helai daun ilalang yang menua me¬la¬yang di udara.
jatuh terku¬lai di ta¬nah basah.
kesunyian kian leng¬kap.

[rojaki…]

Perjalan Malam

Masih saja bulan meronda malam ini
Hanya kabut hitam yang menjadi saksi perjalanannya
Temaram sinar di bukit menjadi petunjuk
Setiap jengkal tapak-tapak kaki
Bulan masih saja menggantung di pucuk randu
Yang mulai lapuk

Aroma dupa yang menyeruak di belantara
Menjadi kesaksian pejalan malam
Ada kidung yang dinyanyikan oleh setiap
Manusia yang menjadi Bisma
Para pejalan masih masih saja mencari jati dirinya

[rojaki…]

Lampung, 28 september 2009

Perjalanan

Kali ini perjalananku sangat melelahkan
Kabut tipis yang turun perlahan di lembah mandalawamu
Mengaburkan pandanganku bersamanya-________
Rasanya ingin aku rebahkan tubuh ini
Di atas tikar bersamamu–geraikan rambutmu
Dan secangkir kopi hangat di sampingku

Kali ini adalah perjalananku yang sangat melelahkan
Tiada jawab yang kutunggu sejak dulu
Ribuan pertanyaan yang terlontar dari mulutku
Kini hanya menjadi bongkahan
Beku dan terbungkus di rongga dadaku

[rojaki…]

Keheningan

Hujan-hujan ini kembali hadir dalam damai dan sedih
Dengan semangatnya mereka berlomba kembali ke bumi
Kehangatan dan kesepian itupun kembali berlalu
Tinggal keheningan dan kedinginan hati sang dara yang tertinggal
Di sudut itu aku melihatnya termenung pada riak hujan
Aku ingin memeluknya memberinya kehangatan dengan rasa cinta
….
Sekayu, 13 Januari 2010

[rojaki…]

Kunanti Sapamu

pagi ini,
tanpa basa-basi
kau menyapaku
seperti mimpi
aku berlari mengitari bumi
ringan, tubuhku melayang
kakiku tak berjejak
hanya jantungku terus berdetak

sesaat, kau terbelalak
lalu tergelak
sajak sunyi yang lama kau telusuri
sampai juga pada ujung yang manis
sapamu yang lama kunanti
telah membawaku
:pada sebuah laku yang kunananti
perjalanan semalam

[rojaki…]

Reinkarnasi

: Untuk reina
selempar senyummu
telah menautkan hatiku
pada ranting kamboja
yang ku tanam dekat kuburmu

sajak-sajak kematianmu
mengurai rindu yang lama membeku
ragamu tertanam damai
di bawah tumpukan tanah merah hatiku
namun senyummu tetap tinggal
membakar laraku menjadi serpihan debu

setangkai kamboja gugur
rebah dalam genggaman tanganku
bau harum tubuhmu tiba-tiba menyeruak
kau muncul dari balik kelopak putihnya
serupa bidadari meski dalam rupa yang pasi
kau menjelma dalam reinkarnasi

Selempar senyummu
Menghangatkan jiwaku
Cinta yang dulu telah mati
Perlahan mulai bersemi kembali

[rojaki…]

Pupus

Di tepi danau yang banyak ditumbuhi ilalang
Kunang-kunang menebarkan cahaya
Berpendar terpantul cermin datar tak beriak
Kita rebah bertumpu pada embun
Kuraba kerinduanmu
Dalam kegelisahan yang terus mengiris

Langit menatap getir__
Pada bulan yang terlihat mesum
Matamu selaksa larik pedang
Terhunus menembus lobang kemaluanku
Melumat sekelopak mawar
Yang mengelilingi bejana suciku
Memancarkan percikan-percikan nafsu
Membekaskan aroma kejantanan
Kau jarah tiap-tiap lekukan
Tanpa menyisakan percakapan
Pedangmu terus terhunus
Hingga kerinduan benar-benar pupus

Malam rebo- gedung sunyi-
[rojaki…]

Di Suatu pagi

rojaki
Tak pernah kusesali
Jika di suatu pagi
Dalam balutan rasa sepi
Kau datang menghampiri
Meski tanpa permisi

Pagi itu,
Menjadi pangkal sebab
Kau dan aku merajut harap

-asrama sekayu-
[rojaki…]

Perpisahan

Biarkan aku pergi
Sekelumit kata pecah
mengurai senyap yang singgah
sejak kita hidup dalam zaman bisu
meretas jarak dari rentang waktu
yang tak tampak meski kita bersatu
membingkai kenangan tanpa bekas

kau terperangah dalam sejuta tanya
tegur sapa lama tak bersahabat
bahkan tatapan pun kita buatkan sekat
kita tenggelam dalam dunia yang berbeda
meski langit terjunjung di atas satu

mendung mengejan
merontokkan butiran-butiran bening
menggenang darah dari luka hati yang meleleh
namun lukaku telah menjadi arang
hitam dan membara

perjalanan kita telah usai
sebelum sampai pada tujuan yang kita mau
namun banyak persimpangan yang telah kita lewati
mungkin dengan menelusurinya seorang diri
kita akan menemukan apa yang kita cari

pergilah,
jawaban itu sekaligus mengakhiri zaman bisu

[rojaki…]

Kurindu harum bungamu

rojaki
Pernah suatu kali
Aku campakkan bunga pemberianmu
Tanpa sempat kucium harum aromanya
Awan kelabu menggelantung di matamu
Kau coba menahan gerimis yang hampir jatuh
Seperti surya aku berseteru dengan hujan
Tak ingin pisah dari pohon dan dedaunannya

Aku manusia bodoh
Telah kupasung keluhuran cintamu
Kukubur bersama raga yang telah membatu
Kematian telah lama menyelubungi hidupku
Pusaraku rindu pada wewangian bungamu
Ke manakah kau bawa bunga yang dulu aku campakkan?

[rojaki…]

[sekayu, di bulan November]

Aku Mencintaimu

di setiap malam, di setiap fajar dan disetiap petang hanya menghadirkan
satu bayangan, wajah indahmu
di setiap detik, di setiap menit dan di setiap jam yang berputar hanya
mendendangkan senandung cinta untukmu
Duhai gadis berparas rupawan
Dengan segala daya dan upaya kupersembahkan cinta untukmu
[Malam kemis- November]

Tak ada suara

Mengapa bumi kali ini begitu lusuh
Apa karena embun yang tidak menyapanya
Pagi tadi…
Hanya gersang dan kering yang tampak pada lapisnya
Bumiku lusuh pagi ini karena kabut enggan menyapanya dan mengajaknya bercerita

Tak ada suara.. tak ada telinga yang mampu meraba suara
Semut yang bercerita
Landak yang mengajaknya bersenda gura
Hanya bisu pagi ini

[rojaki…]

Sajak ,
Sebelum bapak meninggal:

aku tak pernah bermimimpi menjadi pelangi
yang berlama-lama melengkung indah di pandang jauh
langit mimpi kita sore hari

gerimis juga seleret
matahari sesaat
lagi langsir,..
pamit meninggalkan taman-taman penuh bunga

angin di udara…
sekelebat lelawa yang berkebar
lalu hati mulai ditimbun petang
di kecemasan yang menghampar
sementara kisah abimanyu belum sempat
kuberikan padanya ..
bapak: pulang padanya..

:…Sekayu, 17 April 2010

[rojaki…]

Sebait Tanya Untuk Dipertanyakan

ini yang selalu menjadi beban pikiran
tanyaku pada jibril yang sedari tadi mengintip di sudut jendela
memandangi penuh tanya, ada apa dengan tingkah gila—
nya
itu mungkin yang ada di benak pikiraanya..
aku hanya mereka-reka apakah jibril punya mata dan telinga
laiknya manusia

setiap bulan aku hanya bisa iri pada yang lainnya
menadapatkan upah sesuai dengan keringatnya
mendapat apa yang sepantasnya menjadi haknya
aku masih ingat saat dulu kuliah:

Jibril masih saja mengenakan gaun hitamnya
Terbang ke sana– kemari mengitari kamar yang sesak dan penuh luka

Jibril, aku mau tanya sebenarnya? Apa aku salah menulis sajak ini
Untuk mu dan untuk kita,
Hasta Indriana juga pernah membawa nama Tuhan dalam sajaknya,
“Tuhan, aku lupa menulis sajak cinta”

Sementara aku hanya ingin bertanya mengenai nasib yang selalu tidak sama
Jibril, apa ini bukan sebuah perbedaan yang yang tidak apik,
Atau kau hanya diam, tanpa bertanya dan menjawab , meski hanya sepenggal kata
Aku tak tau entah harus bagaimana aku mampu berkomunikasi denganmu
Aku sungguh lupa
Lupa di mana aku sekaarang berada, lupa aku memang tak bekerja
Lupa aku kalau kau tugas beda
Lupa aku pada segala

Aku membaca sebuah kemurnian hidup?
Bahwa aku sebenarnya ingin seperti batang padi, menyembul
Megelurkan apa ayang ada, dan ia tak takut dengan apa yang akan terjadi padanya

Tapi, aku belum bisa, Jibril
Aku hanya manusia biasa?

[rojaki…]

Dikirim oleh : Rojaki, s.pd
Situs : http://rozakismanda.wordpress.com/

Tags:

Kirim artikel ke Lentera Hati
Dapatkan backlink gratis dengan mengirimkan artikel beserta alamat blog anda ke lenterahati.web.id
Bergabung dengan Lentera Hati di Social Bookmark
Berlangganan artikel melalui Email
Silahkan masukan alamat email, untuk membaca setiap artikel terbaru lenterahati.web.id langsung dari inbox email anda

Tinggalkan Komentar di Sajak Sajak Limosin

CommentLuv Enabled