senandung pagi dan akulah malam
SENANDUNG PAGI
embun pagi melantungkan syairnya
tentang kerinduan pada rembulan
yang tak pernah lagi datang menyapa
apalagi membisikkan kata cinta
“rembulan, di pagi ini aku masih setia menunggumu…
menunggu sampai sang surya berlabuh di tepi malam
kuharap datanglah… bisikkan kata cinta seperti dulu !”kata
embun pagi
pagi, siang sampai sang surya menepi
bisikan kata cinta sang rembulan tak pernah datang
“rembulan, di manakah engkau bersembunyi…?
tahukah bibir ini, hati ini, tak kuasa lagi menahan hasrat
yang telah lama terpendam di relung sukmaku
datanglah….datanglah, jenguklah……
detik ini aku menunggumu……, “harap embun pagi
rembulan pun datang
tapi ia tak membisikkan kata cinta
“embun pagi, aku datang dengan cahaya senyap
aku telah lama tak gairah ……
izinkan aku menjauh dari sisimu
dan tak akan kembali lagi walau air matamu
habis menetes …, “kata rembulan
ia pun lalu pergi entah kemana
dan hanya menitipkan selembar kertas yang terulis:
gairah yang beku……
embun pagi terpana membacanya
air matanya menetes deras
dan ia pun lunglai
hatinya berkecamuk
penuh goresan luka dan duka
ia pun mengambil secarik kertas
lalu menulis: gairahku pun beku ….. !
disekelilingnya..
hembusan angin tak mampu menyadarkannya
ia tetap terpaku dalam kesepiannya
Tarakan, 14-6-2012 (pkl 7.00 wita)
AKULAH MALAM
akulah malam yang mengembara
dari puncak sunyi ke puncak sepi
dari puncak hening ke puncak senyap
menjemput kerinduan yang terasing
dari belantara cinta
akulah malam yang mengembara
dari puncak galau ke puncak resah
dari puncak lelah ke puncak letih
menjemput kehangatan cinta
di kedalaman sukmamu
di sini….
kumenunggumu
bersama embun cinta
yang setia menemaniku
hingga fajar mulai merekah
di bibirku yang terkatup
Tarakan, 12-6-2012 (pkl 22.25 wita)
DO’A MALAM RABU
tuhan
malam ini aku larut dalam canda
karena seharian dibalut ketegangan
izinkan aku tafakkur dalam heningku
mengakui kekhilafanku
maafkan
maafkan
maafkan daku
Tarakan, 12-6-2012 (pkl 22.30 wita)

