Kirim Tulisan

Judul Tulisan* :
Pilih Kategori* :
Nama: *
Email: *
Website:
Isi Tulisan* :
Tag Tulisan:
Contoh: tuhan,cinta,harapan (pisahkan dengan koma)
Upload Gambar:
Kode Verifikasi
Visual CAPTCHARefresh
Saya telah membaca Syarat dan Ketentuan
Jan 12

Tanah Air-Muhammad Jamin

Posted on January 12th, 2009 by by admin

Di atas batasan Bukit Barisan
Memandang beta ke bawah memandang
Tampaklah hutan rimba dan ngarai
lagi pun sawah, telaga nan permai :
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa :
Itulah tanah airku
Sumatera namanya tumpah darahku.

Indah ‘alam warna pualam
Tempat moyangku nyawa tertumpang :
Walau berabad sudahlah lampau
Menutupi Andalas di waktu nan silau
masih kubaca di segenap mejan
Segala kebaktian seluruh zaman,
Serta perbuatan yang mulia hartawan
nan ditanam segala ninikku
Dikorong kampung hal milikku

Rindu di gunung duduk bermenung
Terkenang masa yang sudah lindang;
Sesudah melihat pandang dan tilik
Timur dan Barat, hilir dan mudik,
Teringatlah pulau tempat terdidik
Dilumuri darah bertitik-titik,
Semasa pulai berpangkat naik :
O, Bangsaku, selagi tenaga
Nan dipintanya berkenan juga.

Gunung dan bukit bukan sedikit
Melengkung di taman bergelung-gelung
Memagari dataran beberapa lembah;
Di sanlah penduduk tegak dan rebah
sejak beliung dapat merambah

sampai ke zaman sudah berubah :
Sabas, Andalas, bunga bergubah !
Mari kujunjung, mari kusembah
hatiku sedikit haram berubah !

Anak perca kalbunya cuaca
Apabila terkenang wktu nan hilang,
karena kami anak Andalas
Sejak dahulu sampai ke atas
Akan seia sehidup semati
Sekata sekumpul seikat sehati
Senyawa sebadan sungguh sejati
Baik di dalam bersuka raya
Ataupun diserang bala bahaya

Hilang bangsa bergantikan bangsa
Luput masa timbulkan masa…
Demikianlah pulauku mengikutkan sejarah
Sejak dunia mulai tersimbah
Sampai zaman bagus dan indah
Atau tenggelam bersama ke lembah
Menyerikan cahaya penuh dan limpah
tetapi Andalas di zaman nan tiba
Itu bergantung ke tuan dan hamba.

Awal berawal semula asal
Kami serikat berpagarkan adat,
Tapi pulauku yang mulia raya
Serta subur, tanahnya kaya
mari kupagar serta kubilai
Dengan kemegahan sorak semarai
lagi ketinggian berbagai nilai,
Karena di sanalah darahku tertumpah
Serta kupinta berkalangkan tanah

Yakin pendapat akan sepakat
Akibat Abrisan manik seikat;
Baik pun hampir jauh dan dekat,
lamun pulauku mari kuangkat
Dengan tenaga kata mufakat
Karena, bangsaku, asal’lai serikat
Mana yang jauh rasakan dekat
Waktu yang panjang rasakan singkat
Dan kemegahan tinggi tentu ditingkat

O, tanah, wahai pulauku
Tempat bahasa mengikat bangsa
Kuingat di hati siang dan malam
Sampai semangatku suram dan silam;
Jikalau Sumatera tanah mulia
meminta kurban bagi bersama
terbukalah hatiku badanku reda
memberikan kurban segala tenaga
Berbarang dua kuunjukkan tiga

Elok pemandangan ke sana Barisan
Ke pihak Timur pantai nan kabur
Sela bersela tamasa nan ramai
Diselangi sungai yang amat permai :
Dengan lambatnya seperti tak ‘kan sampai
mengalirlah ia hendak mencapai
jauh di sana teluk yang lampai;
Di mana dataran sudah dibilai
Tinggallah emas tiada bernilai

Jong Sumatera
No. 4, Th 3, 1920

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Tags:

Kirim artikel ke Lentera Hati
Dapatkan backlink gratis dengan mengirimkan artikel beserta alamat blog anda ke lenterahati.web.id
Bergabung dengan Lentera Hati di Social Bookmark
Berlangganan artikel melalui Email
Silahkan masukan alamat email, untuk membaca setiap artikel terbaru lenterahati.web.id langsung dari inbox email anda

Tinggalkan Komentar di Tanah Air-Muhammad Jamin

CommentLuv badge