tukang parkir-sajak muh amir jaya
TUKANG PARKIR
Di sudut pasar THM
Setiap detik ia berkelahi dengan matahari
Sejak pagi hingga petang
Ia tak mengenal lelah
Tak mengenal gerah
Mengatur satu demi satu roda dua
Yang berbaris seperti semut tak beraturan
Dengan tubuh cacat
Sesekali menyeka keringatnya yang mengucur
Didorongnya kembali satu demi satu roda dua
Yang diparkir pemiliknya tak beraturan
Semangatnya tak pernah padam
Berkelahi dengan matahari
Demi perut bidadari dan buah hatinya
Yang setia menunggu di gubuk reotnya
Ia paham, hidup adalah perjuangan
Ia paham, hidup adalah pengabdian kepadaNya
Maka ketika azan berkumandang
Ia segera menyeret tubuhnya ke musalla
Sujud dan bersimpuh kepadaNya
Ia tak pernah tahu
Kapan berhenti berkelahi dengan matahari
Kapan ia merdeka dari ketakberdayaan
Tapi hari ini ia tahu
Tangan yang cacat menjadi kekar
Membawakan uang receh (duapuluh ribu rupiah)
Buat bidadari dan buah hatinya
Yang setia menunggu di gubuk reot
Tarakan, 17 Juli 2012.

