Yang Tak Bisa Bermimpi
Di atas tumpukan daun ketapang
kau rajut mimpi dengan ranting kering
Melirik sedikit pada tanah yang tertimbun
Tertimpa dosa yang tak terduga
Sekali lagi ku dengar jeritan itu, Menggelitik telinga ku yg nyenyak terlelap
Terisak tangis yang kian mendera
lalu kucoba tuk membuka jendela
Ia terisak meringkuk kecil
di bawah pohon rindang yg kian menjulang
Ia. . . Yang tanpa dapat berlindung
hanya tersendu menahan perih lukanya
Terbengkalai mimpinya,
bak daun kering yang terbang tak tentu arah
Darahnya yang mengalir d kaki kanannya. . .
Dan goresan luka yg tersayat debu jalanan
Ia. . . .
Yang kini hanya bisa meminta
Yang kini hanya bisa tengadah dalam kebisuan
Mencoba memeluk bumi dalam dekapnya
Tertelan gelap yg meranggasi diri
Di bawah taburan bintang malam yang maha kaya
Ia telan luka tadi siang. . .
Tatkala tangan tangan kejam menyeretnya
Ia hanya bisa terisak dalam batinnya
Betapa kejam hidup ini baginya. . .
Ia yang berharap setitik embun
Tuk sekedar melepas lelah
Ia yang hanya ingin berdiri tegak di atas buminya
Harus terinjak lara dalam diamnya
Hanya doa yang selalu terpanjat
Pada Robbnya yang ia anggap begitu adil
pada Tuhannya yg menyisakan harapan melebihi ribuan bintang
Hingga akhirnya ia kembali
Dalam pelukan hangat dari Tuhannya

